Cerita Sex Divine Intervention

Cerita Sex Divine Interventionby on.Cerita Sex Divine InterventionDivine Intervention Aku memegangi kepalaku yang terasa pening. Itu cuma mimpi buruk Vancuma mimpi! Fuck! bentakku kepada diri sendiri, berusaha memisahkan antara mimpi dengan kenyataan yang sedang aku jalani saat ini Tanganku gemetar hebat dan seluruh tubuhku berkeringat. Kakak? suara lembut Sherry kembali menyadarkanku dan aku mendongak, menatap cewek itu Sherry menatapku dengan pandangan yang […]

multixnxx-Black hair, Brown hair, Asian, Tattoo, Jea-7 multixnxx-Black hair, Brown hair, Asian, Tattoo, Jea-8 multixnxx-Black hair, Brown hair, Asian, Tattoo, Jea-9Divine Intervention

Aku memegangi kepalaku yang terasa pening. Itu cuma mimpi buruk Vancuma mimpi! Fuck! bentakku kepada diri sendiri, berusaha memisahkan antara mimpi dengan kenyataan yang sedang aku jalani saat ini

Tanganku gemetar hebat dan seluruh tubuhku berkeringat.

Kakak? suara lembut Sherry kembali menyadarkanku dan aku mendongak, menatap cewek itu
Sherry menatapku dengan pandangan yang tidak dapat kumengerti, tetapi yang jelas aku melihat ada gurat-gurat kekhawatiran dan kecemasan. Dari tatapan matanya itu saja aku sudah merasa sangat bersalah telah membuatnya khawatir seperti ini.

Mimpi buruk ya kak? Sherry mengelap keringatku menggunakan sapu tangan yang diambilnya dari saku seragam sekolahnya

Aku tidak sanggup menjawab. Lidahku terasa kaku dan tidak dapat digerakkan sementara aku merasa air mengalir turun dari mataku dan membasahi wajahku.

Sherry mengelus kepalaku dengan sangat lembut. Lho lho..kok nangis? Kakak kenapa? ia bertanya pelan

Aku menangis?

Kenapa?

Entahlah…

Dalam hatiku sendiri aku bertanya-tanya sejak kapan aku sampai menangis gara-gara sebuah mimpi?

Dulu saat aku masih sering berkelahi, dikeroyok orang hingga babak belur pun aku tidak pernah menangis, tapi sekarang kenapa hanya karena sebuah mimpi yang sama sekali tidak nyata aku bisa sampai menumpahkan air mataku seperti seorang bocah ingusan?

Wellpeople change

Setiap tarikan napas membuat hatiku terasa sakit, seperti disayat dengan silet berkarat. Aku sudah lupa berapa lama aku menjalani hidup penyakitan seperti ini.

Mimpi buruk ya? Sherry mengulangi pertanyaannya sekali lagi

Aku mengusap wajahku yang basah oleh air mata dan tersenyum kepada Sherry walaupun aku tahu bahwa bibirku tidak membentuk sebuah senyum.

Iya Sher aku benar-benar memaksakan senyum

Pikiranku kacau. Benar-benar kacau. Saat ini aku merasa bahwa hidupku benar-benar sudah tidak karuan. Tanpa arah. Dan saat aku menatap kedua telapak tanganku yang basah oleh keringat, seolah-olah semua ini juga hanya mimpi. Mimpi buruk yang benar-benar tidak menyenangkan. Sebuah mimpi buruk tanpa ujung yang bernama kenyataan

Mataku masih terasa kabur dan berat, pandanganku tidak dapat focus, sama seperti hatiku yang kini tidak memiliki arah. Saat aku melihat sekitarku, aku hanya dapat menatap tembok kelabu yang menjulang tinggi, membatasi antara aku dan semangat hidupku. Aku tahu ini sudah pagi dan aku tahu matahari sudah terbit, tetapi yang aku lihat hanyalah kegelapan pekat.

Fuck! umpatku dalam hati. Aku muak.

Muak dengan semua mimpi buruk ini. Muak menjalani hidup yang hanya dipenuhi perasaan sesal. Dan yang paling membuatku membenci hidupku saat ini adalah karena aku kehilangan Valen.

Sherry berlutut di lantai yang dilapisi karpet dan menggenggam tanganku. Ia sudah mengenakan seragam sekolahnya dan sudah siap untuk berangkat. Matanya itu memandangku dalam-dalam. Sedetik kemudian Sherry tersenyum.

Udah, yuk bangunSherry udah masak buat kakak tuh ia menggenggam tanganku dengan lembut

Thanks Sherkamu makan duluan dehaku mandi dulu aku mengelus rambutnya. Sejujurnya, aku masih belum menemukan semangat untuk melanjutkan hidupku hari ini.

Mmm ia menggeleng, aku makan bareng kakak aja. Nggak apa, aku tungguin sampai kakak agak mendingan deh

Aku diam, tidak menjawab kalimatnya barusan. Suasana hatiku masih tidak karuan. Inilah salah satu beban hidupku, beban baru yang kutanggung setelah kepergian Valen. Sebuah mimpi buruk yang selalu menghantuiku setiap malam. Sebuah penyesalan yang membuatku sulit menemukan semangat hidup.

Sherry menatapku dengan kedua matanya. Bibirnya membentuk sebuah senyum penuh iba. Aku tahu, aku pasti benar-benar terlihat seperti seseorang yang sangat memprihatinkan, namun, memang itulah keadaanku sekarang. Ya kan? Mungkin di mata Sherry aku adalah seorang cowok lemah yang kerjaanya hanya murung, melamun dan kehilangan semangat hidup setelah kehilangan seseorang yang berstatus pacar atau kekasih. Tapi.memang itu yang aku rasakan.

Pelan-pelan kak. Kakak pasti bisa lewatin semua ini bisik Sherry lembut dan mengambil tempat, duduk di tepian kasur di samping kiriku.

Ia mengulurkan tangannya. Ketika ia melakukan hal itu, aku menatapnya. Memang mataku mengarah kepadanya, tetapi aku tidak benar-benar sedang menatapnya. Saat Sherry menyadari pandanganku, sejenak dirinya tampak ragu, tetapi kemudian ia merengkuh dan membaringkan kepalaku di dadanya. Ia memelukku dengan erat, seolah ia bisa merasakan tekanan hidupku yang kini seakan-akan berlipat ganda.

Aku cukup terkejut saat Sherry melakukan hal ini. Tetapi saat ini aku memang benar-benar membutuhkan dukungan. Dan Sherry memberikan dukungan itu dalam bentuk suatu pelukan penuh kasih sayang.

Everything is gonna be alright ucapnya pelan

Tangannya mengelus kepalaku dengan lembut, seolah-olah aku adalah sesuatu yang sangat rapuh dan mudah pecah. Dan dalam pelukan cewek itu, aku benar-benar merasa kecil dan lemah. Aku merasa seperti seorang anak kecil yang selalu ditekan oleh kerasnya kehidupan. Aku merasa seperti sebuah patung yang terbuat dari abu, yang akan segera hancur jika terkena sapuan angin yang paling lembut sekalipun.

Maaf. Maaf tanpa sadar air mataku merebak

Hatiku benar-benar sesak oleh rasa bersalah dan penyesalan. Semenjak kepergian Valen, aku tidak henti-hentinya merasa bersalah. Bahkan ketika rasa itu benar-benar kuat, tidak jarang aku menangis. Ya. Aku tidak malu. Persetan dengan rasa malu. Jika kalian pernah merasakan pedihnya ditinggal seseorang yang amat kita cintai, seseorang yang memberi begitu banyak kebahagiaan dalam hidup, apalagi dia adalah first love, maka kalian akan mengerti apa yang aku rasakan saat ini.

Sssh. Nggak apa-apa

Gara-gara akuValenValen aku tidak mampu melanjutkan kalimatku karena air mata yang telah tumpah

Sst! Jangan gitu. Ini bukan salahmu kak pelukan Sherry semakin erat

Cobacoba waktu itu aku nggak nyerah. Coba dulu aku berusaha masuk ke Night Firefly sekali lagi, mungkinmungkin semuanya nggak akan jadi seperti ini tangisku semakin keras karena pelukan Sherry seakan membobol bendungan emosiku

Tapikalau dulu kakak nggak nyerah, mungkin akuaku kalimat Sherry terhenti saat aku merasa otot tubuhnya menegang sesaat

Nggak. Kak Evan nggak salah. Kakak sudah berusaha sebisa mungkin dengan cepat ia mengganti arah pembicaraan seakan tidak pernah mengucapkan kalimat sebelumnya

Aku hanya mengangguk kecil. Hatiku merasa jauh lebih lega saat Sherry berkata bahwa aku tidak bersalah atas kematian Valen. Rasanya seperti sebagian bebanku telah diangkat walaupun beban itu masih ada, tetapi rasanya jauh lebih ringan.

Setelah emosiku benar-benar kutumpahkan dalam tangis, aku merasa jauh lebih baik. Pelukan Sherry tidak mengendur dan ia masih mengelus-elus kepalaku. Pelan-pelan panca-inderaku mulai pulih. Aku benar-benar menikmati kontak fisik dengan Sherry. Jujur, aku sangat menyukai bagaimana ia memperlakukanku di saat seperti ini, di saat aku tidak bisa bersikap sok tegar dan sok kuat, saat aku memang sedang jatuh terpuruk dan kesulitan untuk bangun lagi.

Kini aku sudah mampu tersenyum. Senyum dalam arti sesungguhnya. Senyum pertamaku sejak beberapa hari terakhir ini.

Thanks ya Sher ucapku pelan

Ia tersenyum manis. Sangat manis. Iya kak Sherry menjawab dengan lembut

Ketika aku sudah bisa membuka selimut gelap yang sejak bangun tidur tadi menutupi akal sehat dan pikiranku, pelan-pelan aku mulai dapat melihat sekelilingku. Kini aku dapat melihat berkas-berkas sinar matahari pagi yang menembus kaca jendela kamarku, kini aku dapat melihat seragam Sherry yang basah oleh air mataku, dan hal yang paling menyenangkan adalah aku kini dapat melihat sepasang tangan yang sejak tadi berusaha menenangkan gejolak dalam hatiku, sepasang lengan dengan kulit putih tersiram cahaya matahari pagi, lengan yang merengkuhku dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

Aku menghirup nafas dalam-dalam dan saat itu juga hidungku dipenuhi berbagai macam wewangian yang menjadi satu dan membentuk bayangan wajah Sherry dalam benakku.

Nyaman. Terlalu nyaman. Aku tidak ingin Sherry melepaskan pelukannya, maka aku melingkarkan kedua tanganku di pinggang Sherry yang ramping dan sebagai balasannya, Sherry memelukku sedikit lebih erat. Aku tersenyum, sedikit demi sedikit semangat hidupku mengalir keluar dari batu karang dalam diriku, menumbuhkan tunas-tunas kecil harapan di hatiku yang sempat tandus dan kering.

Aku merasakan hal positif mulai tumbuh di pikiranku untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir ini. Mungkin efeknya tidak seberapa, tetapi tetap saja ini merupakan progress yang besar.

Alarm jam di meja belajarku berbunyi nyaring, menandakan waktu sudah menunjukkan pukul 6. Biasanya aku baru mulai mandi dan siap-siap sementara Sherry sudah siap sejak pukul 6 kurang.

Sherry meraih weker itu dan mematikannya. Udah jam 6 kak. Umh…hari ini….mmm…mau aku temenin?

Aku menggeleng sebagai jawaban. Kamu berangkat aja nggak apa-apa ucapku sambil melepaskan pelukanku dari tubuh Sherry

Kakak hari ini sekolah?

Nggak kayaknya…badanku masih nggak enak

Sherry mencondongkan tubuhnya lalu meletakkan tangannya di keningku. Hmh…masih anget kak badannya. Udah tidur aja…bener nih nggak mau aku temenin?

Nggak usah Sher, kamu sekolah aja. Jangan keseringan bolos Sherry bangkit dan tersenyum. Ia mengambil tas serta jaket hoodie berwarna abu-abu yang tersampir di kursi meja belajarku.

Oke deh. Aku berangkat sekarang ya kak. Ntar takut jalannya macet ucapnya sambil merapikan seragam lalu memasukkan jaketnya ke dalam tas

Kamu naik apa emang?

Sherry menatapku dengan terheran-heran. Bus jawabnya dengan mengangkat bahu

Aku tidak mempedulikan tatapannya itu dan merogoh buffet di samping tempat tidur. Begitu menemukan kunci mobil, aku langsung mengulurkannya kepada Sherry.

Gini aja, kamu bawa mobil ke sekolah. Ni kuncinya kunci yang kuulurkan diterima oleh Sherry dengan agak ragu

Tapi ntar kalo kakak mau pergi gimana?

Kan masih ada Ave di garasi aku tersenyum berusaha meyakinkan cewek itu

Ohoke. STNK-nya aku bawa ya kak? Sherry berlari kecil dan mengambil STNK Accord-ku yang tergeletak di meja belajar lalu memasukannya ke
dalam dompet

He eh. Aduh, maaf ya aku nggak bisa nganter ucapku merasa tidak enak

Iya nggak apa-apa kok. Nanti siang mau makan apa? Sherry tersenyum

Ntar aku cari sendiri aja. Oh, ini nanti kalo kamu mau makan atau shopping. Mumpung bawa mobil setelah mengambil SIM, KTP dan beberapa lembar uang seratus ribuan untukku sendiri, aku menyerahkan dompetku lengkap dengan debit dan credit card-nya kepada Sherry

Sherry menggeleng. Eh? Nggak kak. Aku nggak ada rencana mau pergi kok

Udah bawa aja. Buat pegangan. Kalo misal mau pakai, pakai aja sesukamu, bebas. Kalo nggak dipakai ya udah
Setelah tampak ragu-ragu sesaat akhirnya Sherry menerima dompetku kemudian memasukannya ke dalam tas. Oke. Aku berangkat dulu ya kak

Ia mengecup pipiku dengan lembut lalu tersenyum manis. Langkah Sherry agak terburu-buru saat ia berjalan keluar kamar. Dadah kakak Sherry berhenti dan melambaikan tangan saat berada di pintu kamar

Iya. Hati-hati ya Sher sahutku tersenyum

Aku tetap duduk tidak bergerak di kasur, diam mendengarkan suara mobil yang dipanasi oleh Sherry, lalu suara gerbang rumah yang dibuka. Beberapa menit kemudian terdengar suara gerbang di tutup dan deru mesin mobil yang semakin tidak terdengar.

Baru setelah aku yakin Sherry sudah berangkat, aku bisa menghembuskan nafas yang entah mengapa sejak tadi aku tahan.
Segera setelah kepergian Sherry, aku duduk termangu menatap pintu yang tertutup rapat. Entah kenapa, sekarang semuanya kembali terasa gelap.

Kamarku yang kubanggakan sebagai benteng pertahananku yang menyenangkan pun berubah menjadi tempat yang suram.

It feels like the light has been taken away

Aku melihat ke arah jam dinding. Jarum jam disana menunjukkan pukul setengah tujuh. Entah apa yang harus aku lakukan untuk mengisi hari liburku ini. Haruskah aku pergi seorang diri dan kembali menenggelamkan diri dalam rasa kehilangan? Atau sebaiknya aku mencoba untuk bersenang-senang dan bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa? Tidak.

Sebelum aku gila dan berbuat yang nggak-nggak, lebih baik aku tidur dan nunggu Sherry pulang ucapku pada diri sendiri dan membaringkan tubuh di kasur

Aku menarik selimut menutupi tubuhku. Tuh kanaku emang udah gila. Ngomong sendiri

Aku memejamkan mataku, berdoa supaya aku tidak mengalami mimpi buruk itu lagi dan pergi tidur ditemani wangi parfum Sherry yang samar-samar menghilang.

Namun tampaknya hari ini aku sudah tidak bisa tidur lagi. Mataku tetap terbuka walaupun sudah kupaksa untuk menutup.

Aku menghela nafas dan duduk. Shit umpatku lirih

Tiba-tiba handphone-ku berbunyi nyaring. Aku melirik ke buffet dan membaca nama yang tertera di layar ituArif. Biasanya akan ada sesuatu yang terjadi kalau bedebah itu meneleponku pagi-pagi seperti ini.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.